|
News dari
JBPTITBBI / 2006-10-31 08:36:39
Pikiran Rakyat, 29 Oktober 2006:
Fenny Martha DwivanyMendapat Penghargaan Berkat Pisang
|
|

|
 |
Oleh: Lefi H/PR
SITH Dibuat: 2006-10-29 |
Keywords: pisang Ambon,ACS, proses pematangan
Menjadi seorang peneliti, mulanya hanya mimpi bagi Fenny Martha Dwivany, Ph.D. Penelitiannya yang berjudul "Konstruksi Vektor Biner ACS yang Meregulasi Aktivitas Gen ACC Sintase Sebagai Alternatif Pengontrolan Pematangan Buah Pisang Ambon" yang dirintisnya selama 2 tahun, mengantarnya meraih pemenang penghargaan L'Oreal Fellowships for Women in Science, di Jakarta, akhir Agustus lalu. -------------------- KETIKA mengikuti acara projek riset yang bervariasi dalam bidang ilmu hayati di seluruh Indonesia itu, dirinya tidak berharap banyak. Apalagi penelitian yang ditampilkan pesaingnya pun bagus-bagus. Itu sebabnya orang yang diundang Fenny pada acara penganugerahan penghargaan dari L'Oreal itu hanya keluarga dekat. "Soalnya kalau mengundang teman atau mahasiswa takut hasilnya mengecewakan," katanya.
Namun, karena penelitiannya dinilai bagus serta memenuhi kriteria lain, seperti perempuan Indonesia, peneliti muda yang berpendidikan minimal Strata 2, dan berusia maksimal 35 tahun, ia terpilih sebagai pemenang penghargaan "L'Oreal Fellowships for Women in Science".
Ide penelitiannya sederhana. Berawal dari melihat perubahan kulit buah pisang, yang asalnya berkulit kuning menjadi kehitaman akibat proses pematangan yang cepat. "Karena biasanya pematangan mengalami proses klimaterik, yaitu proses pematangan yang terus berjalan dari mulai dipetik hingga seterusnya seperti terjadi pada buah tomat, pepaya, pir, dan masih banyak lainnya," tutur perempuan berkacamata ini. Biasanya, untuk memperlambat pematangan dilakukan dengan cara konvensional, menggunakan kardus busa, terutama untuk buah-buahan ekspor, atau dimasukkan ke dalam lemari pendingin ataupun ditutup dengan wadah.
Dengan tujuan ingin membantu petani dan pedagang buah, wanita lulusan S-3 University of Melbourne, Australia ini membuat penelitian dengan manipulasi genetik, yaitu dengan pengontrolan ekspresi gen yang berada di jalur pembentukan etilen atau karbit, seperti halnya pengontrolan ekspresi gen ACC sintase (ACS) yang ada pada pisang ambon. Selain itu, ia menambahkan promotor yang sifatnya sensitif dan dapat mengatur kerja on atau off proses pematangan itu. Cara ini kemudian akan menghasilkan sebuah konstruk gen yang dapat diaplikasikan, tidak hanya untuk pengontrolan pematangan buah pisang, tetapi juga buah-buahan klimaterik lainnya. Ide memperlambat pematangan ala Fenny, menggunakan alkohol, praktis dan terbilang aman. "Berbeda dengan penggunaan alkohol 70% pada wajah sebagai desinfektan/pembunuh kuman, kandungan alkohol yang dipakai pada pisang hanya 0,1 % - 0,8%. Itu pun disemprotkan sekali pada kulit pisangnya saja. Alkohol yang berupa gas tersebut cepat menguap di udara," paparnya.
Fenny akan melanjutkan penelitian ini dengan melakukan transformasi genetika tanaman pisang pada tahapan gen ACC sintase yang telah dimodifikasi, lalu ditransfer ke tanaman pisang.
**
HINGGA saat ini, program L'Oreal Indonesia Fellowships For Women In Science telah dilaksanakan untuk ketiga kalinya. Program ini diberikan kepada enam perempuan peneliti asal Indonesia yang memiliki projek riset yang bervariasi dalam bidang ilmu hayati. Dari para kandidatnya yang berasal dari luar Jakarta, bahkan luar pulau Jawa, Fenny salah satu finalis dari Bandung yang terpilih menjadi pemenang. Baru kali ini wakil Kota Bandung meraih penghargaan penelitian program L'Oreal Indonesia Fellowships for Women in Science yang didukung oleh Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO. Setiap tahun, penghargaan ini dianugerahkan kepada dua perempuan peneliti asal Indonesia yang memiliki projek riset yang menjanjikan, guna mendukung awal karier mereka di bidang sains. Fenny merupakan satu-satunya kandidat asal Bandung yang pertama meraih penghargaan dalam bidang penelitian yang diselenggarakan L'Oreal. Program penelitian ini di Indonesia berlangsung tahun 2004 hingga 2006.
**
PROFESINYA sebagai dosen ilmu dan teknologi hayati di ITB tak terlepas dari ilmu biologi, tentang sesuatu yang hidup yang sangat disukainya. Makhluk hidup memang memiliki keunikan sendiri yang membuat Fenny berusaha menguaknya lebih dalam.
Selain sebagai dosen, Fenny sering memberikan pengarahan kepada mahasiswanya, mulai membuat proposal seputar bioteknologi, ilmu dan teknologi hayati, sampai penelitian.
Perjalanan panjang mengantarkan Fenny hingga menjadi seorang peneliti. Awalnya, menjadi peneliti tak terlitas dalam benaknya. Sama halnya dengan umumnya mahasiswa, ketika masa kuliah ia menjalani ujian dengan "SKS" (sistem kebut semalam, plesetan dari sistem kredit semester). Bahkan, teman-temannya melihat Fenny sebagai mahasiswi genkgonk alias bandel, suka main dan hura-hura. Ia juga dikenal sebagai orang yang easy going. Ia melakukan apa pun yang diinginkannya, bukan karena orang lain atau orang tua menyuruhnya.
Fenny pun tak betah diam. Oleh karena itu, ia aktif dalam berbagai kegiatan. Di SMPN 2 misalnya, Fenny mengikuti kegiatan paduan suara. Semasa kuliah ia menjadi sekretaris himpunan di jurusannya, mengikuti lingkung seni Sunda, menjadi tim dengung, serta menari. Bahkan, unit hoki di ITB pun dimasukinya. Di unit inilah ia bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suaminya. Walaupun kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa di kampusnya tidak boleh lebih dari dua, ia tetap mengikuti berbagai kegiatan yang disukainya. Baginya, kuliah harus dijalaninya dengan fun, seimbang antara kuliah dan kegiatan.
Ada satu hobi Fenny yang tampaknya sangat berpengaruh pada kepenilitiannya, yaitu membaca. Apa pun dibacanya, terutama novel dan majalah berita, atau artikel ilmiah di jurnal. Bahkan, ketika masih anak-anak, bila mati lampu ketika sedang membaca ia tetap meneruskan membaca walaupun hanya memakai lilin.
Anak sulung dari tiga bersaudara ini ternyata agak berbeda dengan adik-adiknya yang tidak berkarier sebagai dosen. Adiknya yang laki-laki mengambil gelar doktor di FKG Unpad, sedangkan adiknya yang bungsu mengambil jurusan sastra Inggris Unpad.
Kesenangannya berinteraksi dengan orang dan mengajar, membawa Fenny mengikuti jejak sang ayah yang menjadi dosen. Ayahnya, Aas Syamsudin (almarhum), dulu adalah dosen di Fakultas Ekonomi Unpad. Sementara, bakatnya sebagai seorang peneliti, mungkin juga "turunan" dari garis ibu. Sepupu ibunya adalah peneliti serangga pertanian.
Karena mencintai penelitian, di luar perannya sebagai ibu rumah tangga, Fenny pernah melatih tim olimpiade IJS (International Junior Science) tahun 2005 di Karawaci, Jakarta. Pengkarantinaan olimpiade science dari Indonesia untuk ajang internasional itu, dijalaninya setiap minggu selama setahun penuh.
Penelitian pada tanaman pangan menjadi pilihan bagi Fenny karena kayanya sumber daya alam Indonesia akan tanaman. Oleh karena itu, selain meneliti pisang, ia pun meneliti padi. Tujuannya, ingin meningkatkan kualitas bulir-bulir padi. Di sini, Fenny memfokuskan diri pada gen penghasil selulosa yang ada pada padi itu sendiri.
Meskipun, easy going, tetapi Fenny memperlihatkan prestasi cukup baik, misalnya sewaktu S-2 ia lulus dengan nilai cumlaude. Kemudian setelah lulus S-3 Fenny pernah mendapat penghargaan dari Bogasari Nugraha yang didanai PT Bogasari Sukses Makmur, atas penelitiannya tentang isolasi gen ACS dan ACO dari pisang ambon pada tahun 2004 - 2006.
**
MESKIPUN sibuk dengan profesinya sebagai peneliti dan dosen, Fenny tak melupakan kesehatannya dan refreshing. Sepulang kerja sore hari, malam sekira pukul 19.00 WIB biasanya ia ke luar untuk berolah raga, fitness, jogging, atau yoga. Hari Sabtu dan Minggu giliran weekend bersama keluarga.
Hingga sekarang perkawinannya dengan Adam Haikal Moeis (35) telah memasuki tahun ke-8. Namun mereka belum menimang buah hati. Menurut Fenny, hal itu karena kesibukan Fenny dan suaminya yang bekerja di luar kota. Sang suami datang seminggu sekali, sehingga proses kehamilannya pun ditunda. Saat ini, Fenny sedang menunggu datangnya sang buah hati di rahimnya. Mudah-mudahan tak lama lagi harapannya itu terkabul. (Lefi H)***
|